Cerita defidi – Pola hidup sejak bayi berefek sampai mereka dewasa

Sumber: http://www.paintingwithpat.org/

Sumber: http://www.paintingwithpat.org/

Pagi ini terbersit ingin menulis tentang akibat yang terbentuk kala anak-anak mulai bayi, batita, balita kemudian kanak-kanak dan remaja sehubungan dengan pola makan sejak bayi yang mereka konsumsi. Ini sample anak aku sendiri dan anak tetangga ya. Saat itu aku masih bekerja sebagai orang kantoran dan pengasuhan anak pertama hampir sepenuhnya dihandle oleh mama, puji dan syukurnya mama adalah lulusan SMKK dan juga guru SMKK bidang gizi, jadi secara ilmiahnya aku sudah tenang dipegang mama dan secara moralnya lebih tenang lagi.

Sejak bayi aku lihat pertumbuhan ankku tidaknya sangat pesat dalam arti tidak gemuk dan bongsor, sangat standar saja, kalo energik ya standar juga cenderung agak pendiam. Tadinya aku pikir apakah mama terlalu mengatur pola makan anakku ya, dengan semua aturan jam dan waktu memberi makan yang dia buat dan tempelkan di dinding dekat dapur. Sampai aku liburpun tetap harus mengikuti pola itu, dan dia akan terkesan marah jika aku keluar dari pola itu.

Saat libur aku lihat cara mama membuat dan memberikannya kepada anakku, ini sekitar anak usia 6/7 bulan ya . untuk pagi dia buatkan oat/gandum/quaker dimasak dengan api el kemudian dia beri telur puyuh dan diblender sebentar, cukup satu mangkok kecil, ini dia berikan setelah anakku mandi yg sebelumnya sudah minum susu + air putih setelah bangun tidur. Ya sekitar jam 8 pagi, sambil berjemur bersama mama, mereka berjalan-jalan sepanjang taman depan rumah sampai makanan itu habis. Lalu anakku dibersihkan dan nonton tv sebentar sebelum anakku tidur. Saat bangun sekitar jam 11 diberi juice buah, paling sering jeruk baby atau air jeruk. Lalu jam 12 diberi makan siang, aku lihat mama membuat bubur nasi dengan campuran : hati sapi, bayam/brokoli, wortel, kadang aku lihat pure kentang dengan telur +keju dan bayam/katuk. Untuk lauk diganti-ganti, ayam giling, daging sapi giling, telur puyuh, fillet ikan. Dan porsi yang diberikan juga dalam mangkuk kecil.

Setelah makan siang biasanya bermain atau leyeh-leyeh lah, saat mama tertidur siang, anakku juga ikut tertidur dan bangun jam 3.30, diberi susu dan siap-siap untuk mandi. Setelah mandi makan sore dengan menu tadi siang yang dihangatkan kembali, cukup hangat saja. Lalu malam, anakku biasanya cukup susu atau camilan biscuit sedikit sambil nunggu neneknya mengaji, selepas isya bermain sebentar dan tertidur.

Sampai saat ini anakku sudah mulai remaja, yang terlihat dampakanya postur tubuhnya tinggi, dengan rambut lebat, kulit bersih, dan standar beratnya, tidak gemuk. Begitu juga dengan yang perempuan, kulitnya sangat bersih, rambutnya tumbuh subur, gigi geliginya bagus dan puji syukur kedua anakku sehat dengan tingkat kecerdasan diatas rata-rata jika diukur secara tes IQ juga hasil akademik mereka.

Lalu aku coba bandingkan dengan anak tetangga yang pola makannya saat itu membuat aku iri, anaknya dapat menghabiskan satu mangkok besar makanan dan juga susu, postur tubuhnya gempal, bongsor bahkan saat SD anakku sudha terlampau tingginya padaha mereka selisih umur 2 tahun lebih tua anakku. Aku sempat bahkan sering konsultasi cukup lama dengan dokter anak keluarga. Aku tidak tau apakah dokter itu jujur mengatakannya atau sekedar menyenangkan hati pasien saja. Selalu yang dikatakan anak ibu sangat normal, lingkar kepala tumbuh dengan baik, berat badan berimbang antara tinggi tubuhnya. Aku bilang tapi terlihat kurus dan tidak terlalu banyak bicara. Dokter bilang itu faktor keturunan ibu, kan ibu juga saat gadis tidak gemuk dan bapak cenderung kurus tinggi, sifat pendiam bawaan dari bapak dan pemalu seperti ibu, seperti yg saya minta ibu ceritakan masa kecil ibu. Nah sifat sifat itu tergabung menjadi satu dan yakinlah anak ibu sehat sehat saja, dan cerdas.

Lama aku tidak begitu yakin akan perkataan dokter, dans etiap kali control rutin selalu itu yang dikatakan dokter. Anakku cukup sering ke dokter karena sering demam dan radang, aku keluhkan ini ke dokter, dan jawabnnya singkat sekali” anak-anak yang tinggal di komplek perumahan cenderung seperti anak ibu, kenapa? Karena daya tahan tubuh mereka lebih rendah dibandingkan anak-anak yang tinggal dikampung. Anak-anak yang sangat bersih, pola makan baik dan cenderung ortu sangat proktektif terhadap anak-anaknya. Naik turun mobil dengan AC, berkeringat saja jarang, dimasukkan ke sekolah juga yang bagus-bagus, pulang pergi mobil jemputan siap sedia, di mobil jemputan juga memakai AC, sampai sekolah ber AC, sampai rumah ber AC, lalu pergi ke suatu tempat yang banyak virusnya, ya mereka rentan akan hal itu. Ibu tau anak-anak saya dengan pola seperti itu juga, tubuh mereka juga cenderung lemah karena kurang gerak motorik, supply vitamin terus. Ini sebenarnya pola hidup yg tidak baik.

Sekarang begini saja bu, saya tidak mau lagi memberikan obat terutama anti biotic ya, ibu pulang, ajak anak ibu jalan tanpa alas kaki kea rah perkampungan (tentu saja yg cukup bersih), biarkan mereka berlari atau bermain tanah sampai mereka berkeringat, lalu sampai dirumah bersihkan dan beri minum air kacang ijo, air tajin ( air anasi), air kaldu, air rebusan sayur dan buah. Minggu depan ibu kembali lagi kita lihat kalo masih demam, masih radang dan masih batuk, kita mesti cek paru-parunya, khawatir ada flek.

Agak aneh sebenarnya saran dokter itu, tapi aku sampaikan dengan neneknya dan dilakukan oleh neneknya, benar saja anakku lebih cepat sehatnya, wajahnya sedikit agak berubah coklat tapi dia lebih ceria. Mulai dari itu jika neneknya jalan-jalan member dia makan, kearah perkampungan yang memang ada kolam pemancingan sekalian neneknya olah raga.

Kemudian kami pindah rumah, dan bertemu kembali dengan tetangga dulu, agak kaget lihat pertumbuhan anaknya, jauh lebih tinggi anak aku tapi anak itu gemuk sekali, ibunya bilang ‘ ini lagi diet, napsu makannya luar biasa bingung saya, kalo nggak distop hayuh saja, tapi dia tidak tinggi, itu yang aneh. Dokternya bilang harus diet dan tidak boleh lagi makan malam setelah jam 5 sore. Ngobrol lebih lama menurut dokternya anak tersebut pola makannya dari kecil sudah salah, usia 3 bulan sdh diberi makanan dengan kandungan karbohidrat yang tinggi, lalu dilanjutkan dengan porsi yang besar, sehingga pencernaanya sudah terbiasa dengan porsi yang besar itu ditambah sugesti dia merasa lapar terus kalo tdk makan banyak. Efek samping yang lain, karena gemuk jadi cepat lelah dan mengantuk, belajar pun terganggu baik disekolah dan dirumah. Orang tuanya mesti berikan uang jajan yg lebih , dan teman aku itu kaget waktu aku katakan kalo anak aku membawa bekal dari rumah baik yg SD maupun SMP jadi takarannya aku sesuaikan baik dari segi porsi maupun pemenuhan gizinya. Saat aku katakana anakku bersekolah di smp x, dia bilang kalo itu mah emang dari dulu dia pintar , hobi belajar, inget aja saya waktu TK, dia sudah senang baca Koran, dia sudah senang baca buku buku tentang alam pokoknya yang berat gitulah, kan neneknya mah orang pinter, itu makan saja pake jam-jam. Saat dia tanyakan neneknya, air mata aku langsung mengalir. Dan sangat kaget mendengar mama sdh tidak ada, ya semua akan kaget karena mama type yang sangat menjaga kesehatan, pola makan, tidur, olah raga jauh lebih bagus dari aku sendiri. Makanya yang mendengar mama meninggal karena pendarahan di otak cukup kaget, secara mama itu jika general cek up semua baik-baik saja.

ternyata pola yang mama berikan tidak jauh berbeda dengan pola yang diberikan oleh pakar gizi anak, ini aku kutip…

http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Bayi/Gizi%2Bdan%2BKesehatan/jadwal.makan.bayi/001/001/2325/1

Mama, terima kasih ya, dua anakku dijaga dengan begitu baiknya, maafkan jika pernah merasa terlalu mengatur pola hidup anak-anak aku. Saat ini mereka tumbuh dengan sangat baik Alhamdulillah ya Allah. Hanya Surga Allah yang patut untuk tempat mama saat ini,( semoga Engkau memberikan tempat itu untuk mama), sudah memberikan yang terbaik baik kehidupan kami sejak ditinggal ayah masih sangat kecil-kecil. Terima ksih ya Rabb, Engkau mnegambil mama dengan begitu indah, tanpa rasa sakit, tanpa penderitaan yang panjang.

3 Comments

on “Cerita defidi – Pola hidup sejak bayi berefek sampai mereka dewasa
3 Comments on “Cerita defidi – Pola hidup sejak bayi berefek sampai mereka dewasa
  1. hmm, berarti (mungkin) mamah saya dulu salah pemberian asupan gizi ya, bund… sedari dulu hingga sekarang tubuh saya gemuk dan tinggi badan standar-standar saja 🙁

Leave a Reply